Nyeri Dubur Setelah Diare

Nyeri dubur setelah diare adalah keluhan yang sangat umum dan bisa terjadi pada siapa saja. Rasa perih, panas, atau seperti terbakar biasanya muncul setelah seseorang mengalami buang air besar yang terlalu sering atau terlalu cair. Meskipun terdengar sepele, kondisi ini dapat mengganggu aktivitas sehari-hari dan bahkan bisa menjadi tanda awal munculnya gangguan di area anus, termasuk iritasi, fisura ani, hingga wasir. Karena itu, penting untuk mengetahui penyebabnya dan bagaimana cara menanganinya dengan benar.

Nyeri Dubur Setelah Diare

1. Kenapa diare menyebabkan nyeri dubur?

Diare menyebabkan frekuensi BAB meningkat, kadang hingga 5–10 kali sehari. Feses cair yang keluar berulang kali dapat mengiritasi kulit di sekitar anus. Kandungan asam dan enzim pencernaan dalam feses juga membuat area tersebut terasa terbakar. Tidak hanya itu, gesekan tisu yang terlalu keras dan sering dapat memperparah luka kecil di sekitar dubur, sehingga nyeri akan semakin terasa.

Beberapa orang bahkan mengalami lecet atau peradangan pada kulit anus setelah diare yang berlangsung lebih dari satu hari. Jika tidak ditangani, iritasi ini bisa memburuk dan menyebabkan pembengkakan.

2. Penyebab lain nyeri dubur setelah diare

Selain iritasi, beberapa kondisi berikut dapat memicu rasa sakit lebih hebat:

  • Fisura ani: Robekan kecil di kulit anus akibat BAB berulang. Ini menimbulkan nyeri tajam setiap kali BAB.

  • Wasir (ambeien): Pembuluh darah di anus membengkak, lalu teriritasi akibat diare berkepanjangan.

  • Peradangan kulit (dermatitis): Muncul bila area anus terlalu lembap dan sering terkena cairan.

  • Infeksi bakteri akibat kebersihan yang kurang.

Jika nyeri makin kuat dan disertai darah, biasanya fisura ani atau wasir mulai terbentuk.

3. Cara meredakan nyeri dubur akibat diare

Beberapa langkah perawatan rumah dapat membantu meringankan gejala:

  • Bilas area anus dengan air mengalir, hindari gesekan tisu yang keras.

  • Keringkan dengan ditepuk lembut, bukan digosok.

  • Gunakan rendam air hangat 2–3 kali sehari untuk mengurangi nyeri dan membuat otot anus lebih relaks.

  • Konsumsi probiotik dan cairan elektrolit untuk memperbaiki fungsi usus.

  • Hindari makanan pemicu diare seperti susu berlebihan, makanan pedas, dan gorengan.

Jika diare sudah berhenti tetapi nyeri dubur tetap berlangsung lebih dari 3–5 hari, ini bisa menandakan adanya fisura ani atau wasir yang perlu diperiksa lebih lanjut.

4. Kapan harus ke dokter?

Nyeri dubur yang tidak membaik setelah perawatan rumah dapat menjadi tanda adanya luka lebih dalam. Di ST Wasir Center, kondisi seperti fisura ani dapat ditangani dengan teknologi radiofrekuensi atau laser, sedangkan bila muncul wasir yang meradang bisa ditangani dengan metode tanpa jahitan seperti radiofrekuensi, ultrasonik, atau Well-C.

5. Pencegahan agar tidak kambuh

  • Jaga pola makan kaya serat

  • Minum 6–8 gelas air per hari

  • Hindari menahan BAB

  • Jaga kebersihan area anus setiap selesai buang air

Nyeri dubur setelah diare biasanya bukan kondisi berbahaya, tetapi bila berlangsung lama atau disertai perdarahan, pemeriksaan medis sangat dianjurkan agar penyebabnya dapat diatasi sejak awal. Klik di sini untuk konsultasi sekarang.

Rate this post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *