Ambeien dan pengaruh perubahan hormon memiliki hubungan yang perlu dipahami, terutama karena perubahan hormon dapat memengaruhi sistem pencernaan dan kondisi pembuluh darah. Ambeien atau wasir terjadi ketika jaringan pembuluh darah di sekitar anus atau rektum bagian bawah mengalami pembengkakan. Kondisi ini dapat menimbulkan benjolan, gatal, rasa tidak nyaman, hingga perdarahan saat buang air besar (BAB).
Perubahan hormon bukan satu-satunya penyebab ambeien. Namun, pada kondisi tertentu, perubahan hormon dapat berkontribusi terhadap sembelit dan meningkatkan risiko munculnya atau memburuknya keluhan ambeien. Karena itu, memahami faktor pemicunya dapat membantu seseorang melakukan pencegahan dengan lebih tepat.
Bagaimana Perubahan Hormon Memengaruhi Ambeien?
Hormon berperan dalam mengatur berbagai fungsi tubuh, termasuk pergerakan saluran pencernaan dan kondisi pembuluh darah. Ketika kadar hormon berubah, sebagian orang dapat mengalami perubahan kebiasaan BAB.
Salah satu contohnya adalah progesteron yang meningkat selama kehamilan. Hormon ini dapat memperlambat pergerakan saluran pencernaan sehingga tinja lebih lama berada di usus dan berpotensi menjadi keras. Jika seseorang mengalami sembelit, kebiasaan mengejan saat BAB dapat meningkatkan tekanan pada pembuluh darah di sekitar anus.
Selain itu, perubahan hormon selama kehamilan terjadi bersamaan dengan pembesaran rahim yang memberikan tekanan pada pembuluh darah di area panggul. Kombinasi faktor tersebut dapat meningkatkan risiko ambeien pada ibu hamil.
Kondisi Hormonal yang Dapat Berkaitan Dengan Ambeien
Beberapa kondisi yang melibatkan perubahan hormon dapat berkaitan dengan munculnya keluhan ambeien.
1. Pengaruh Perubahan Hormon Saat Kehamilan
Kehamilan merupakan salah satu kondisi yang sering dikaitkan dengan ambeien. Perubahan hormon, sembelit, dan tekanan dari rahim yang membesar dapat meningkatkan risiko pembengkakan pembuluh darah di sekitar anus.
Keluhan dapat muncul selama kehamilan atau setelah persalinan, terutama jika proses mengejan memperburuk kondisi pembuluh darah yang sudah membengkak.
2. Menjelang Menstruasi
Sebagian perempuan mengalami perubahan pola BAB menjelang menstruasi. Ada yang mengalami sembelit, sedangkan lainnya mengalami tinja lebih lunak atau diare. Perubahan ini dapat berbeda pada setiap orang.
Jika sembelit menyebabkan seseorang mengejan lebih kuat, keluhan ambeien yang sudah ada dapat terasa lebih mengganggu. Namun, perubahan hormon menjelang menstruasi tidak secara langsung menyebabkan ambeien pada semua perempuan.
3. Perubahan Hormon Pada Kondisi Lain Saat Ambeien
Perubahan hormon juga dapat terjadi karena kondisi medis tertentu atau penggunaan obat hormonal. Meski demikian, tidak semua perubahan hormon berhubungan langsung dengan ambeien.
Jika keluhan ambeien muncul bersamaan dengan perubahan pola BAB yang menetap, sebaiknya konsultasikan dengan dokter untuk mengetahui faktor yang mendasarinya.
Cara Mengurangi Risiko Ambeien Saat Mengalami Perubahan Hormon
Meskipun perubahan hormon tidak selalu dapat dicegah, risiko sembelit dan tekanan berlebihan pada anus dapat dikurangi melalui beberapa kebiasaan berikut.
1. Tingkatkan Konsumsi Serat
Konsumsi sayuran, buah-buahan, kacang-kacangan, dan biji-bijian utuh untuk membantu menjaga tinja tetap lunak. Tingkatkan asupan serat secara bertahap agar tubuh dapat beradaptasi.
2. Cukupi Kebutuhan Cairan
Minum air yang cukup membantu mendukung fungsi pencernaan. Kebutuhan cairan setiap orang berbeda, terutama bagi ibu hamil atau orang dengan kondisi medis tertentu.
3. Hindari Mengejan Berlebihan
Jangan memaksakan BAB ketika tinja sulit keluar. Hindari pula duduk terlalu lama di toilet karena kebiasaan tersebut dapat meningkatkan tekanan pada area anus.
4. Tetap Aktif Bergerak
Aktivitas fisik yang sesuai dengan kondisi tubuh dapat membantu mendukung pergerakan usus. Bagi ibu hamil atau orang dengan kondisi kesehatan tertentu, pilih aktivitas yang aman berdasarkan anjuran tenaga medis.
Kapan Ambeien Perlu Diperiksa Dokter?
Jika benjolan anus semakin besar, nyeri mengganggu aktivitas, atau perdarahan terjadi berulang, pemeriksaan dokter diperlukan. Perdarahan dari anus tidak selalu disebabkan oleh ambeien sehingga penyebabnya perlu dipastikan.
ST Wasir Center menyediakan pemeriksaan dan pilihan penanganan ambeien sesuai kondisi pasien. Dokter spesialis bedah dapat mengevaluasi gejala serta menentukan penanganan yang tepat, termasuk mempertimbangkan kondisi khusus seperti kehamilan apabila relevan.
Kesimpulan: Ambeien dan Pengaruh Perubahan Hormon
Ambeien dan pengaruh perubahan hormon berkaitan terutama melalui perubahan fungsi pencernaan, sembelit, serta peningkatan tekanan pada pembuluh darah di sekitar anus pada kondisi tertentu. Kehamilan merupakan salah satu contoh kondisi yang dapat meningkatkan risiko ambeien, sedangkan perubahan hormon menjelang menstruasi dapat memengaruhi pola BAB pada sebagian perempuan.
Menjaga asupan serat, memenuhi kebutuhan cairan, dan menghindari kebiasaan mengejan dapat membantu mengurangi risiko keluhan. Jika ambeien terus kambuh atau disertai perdarahan, konsultasikan dengan dokter agar penyebabnya dapat diketahui dan penanganannya sesuai kebutuhan.