27 views
Fisura Ani Sering Terjadi Pada Anak, Apa Alasanya?

Fisura ani merupakan kondisi medis yang umum terjadi pada orang dewasa, tetapi juga bisa terjadi pada anak-anak. Fisura ani pada anak adalah adanya celah atau robekan pada lapisan mukosa yang melapisi anus. Kondisi ini dapat menyebabkan rasa sakit, perdarahan, dan ketidaknyamanan saat buang air besar.

Penyebab Fisura Ani Pada Anak

Ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan gejala ini. Beberapa di antaranya adalah:

  1. Kerasnya tinja: Jika tinja anak terlalu keras dan sulit dikeluarkan, tekanan yang tinggi saat buang air besar dapat menyebabkan robekan pada lapisan anus.
  2. Konstipasi: Gangguan pencernaan seperti konstipasi atau sembelit dapat menyebabkan tinja menjadi keras dan menyebabkan fisura ani pada anak.
  3. Diare: Diare yang berkepanjangan dapat menyebabkan iritasi pada area anus dan memperbesar risiko terjadinya fisura ani.
  4. Trauma fisik: Cedera pada area anus, misalnya karena kecelakaan atau pemberian obat secara tidak hati-hati, dapat memicu terjadinya fisura ani pada anak.

Gejala-Gejala

Fisura ani pada anak dapat menunjukkan beberapa gejala berikut:

  1. Nyeri saat buang air besar: Anak mungkin mengalami rasa sakit atau sensasi terbakar saat buang air besar. Nyeri ini umumnya berlangsung selama beberapa waktu setelah buang air besar.
  2. Perdarahan: Adanya darah segar pada tinja atau di permukaan kertas toilet adalah gejala umum yang terjadi pada kondisi ini. Perdarahan biasanya ringan dan berhenti dengan sendirinya.
  3. Kesulitan buang air besar: Anak mungkin mengalami kesulitan dalam mengosongkan usus dan merasa seperti ada hambatan saat buang air besar.
  4. Ketidaknyamanan: Anak dapat merasa tidak nyaman atau gatal di sekitar anus.
Baca Juga:  Rahasia Polip dan Wasir

Pengobatan Fisura Ani Pada Anak

Pengobatan kondisi ini umumnya melibatkan kombinasi perawatan non-bedah dan perubahan gaya hidup. Berikut adalah beberapa pendekatan yang dapat dilakukan:

  1. Mengatasi sembelit: Penting untuk mengatasi masalah sembelit pada anak. Pemberian makanan tinggi serat, banyak cairan, serta olahraga dapat membantu melunakkan tinja dan memudahkan buang air besar.
  2. Penggunaan obat penahan rasa sakit: Dokter mungkin meresepkan obat penahan rasa sakit ringan untuk mengurangi rasa sakit yang timbul selama buang air besar.
  3. Pemeriksaan dan tindakan bedah: Jika gejala tidak membaik setelah perawatan non-bedah atau penyakit ini terjadi secara berulang, dokter mungkin merekomendasikan pemeriksaan lebih lanjut atau tindakan bedah yang diperlukan.

Pencegahan Fisura Ani Pada Anak

Untuk mencegah terjadinya kondisi ini, berikut adalah beberapa langkah pencegahan yang dapat diambil:

  1. Menerapkan pola makan sehat: Berikan anak makanan tinggi serat, seperti buah-buahan, sayuran, dan biji-bijian.
  2. Membiasakan gaya hidup sehat: Ajak anak untuk berolahraga secara teratur.
  3. Mengajarkan kebiasaan buang air besar yang benar: Anak perlu diajari cara yang tepat dalam buang air besar, termasuk tidak mengejan terlalu kuat dan tidak menunda-nunda buang air besar saat merasa ingin.
  4. Hindari pemberian obat secara sembarangan: Pastikan obat-obatan yang diberikan pada anak sesuai dengan dosis yang tepat dan tidak menyebabkan efek samping yang merusak area anus.

Fisura ani pada anak bisa sangat mengganggu dan menyakitkan. Jika Anda mencurigai anak Anda mengalami fisura ani, penting untuk mengonsultasikan ke dokter untuk diagnosis dan pengobatan yang tepat. Dengan perawatan yang tepat dan perubahan gaya hidup, anak dapat pulih sepenuhnya dari fisura ani dan mencegah terjadinya kekambuhan.

Dalam kebanyakan kasus, fisura ani pada anak sembuh dengan perawatan konservatif dan perubahan gaya hidup. Namun, dalam beberapa situasi, kondisi ini dapat menjadi kronis atau berkembang menjadi komplikasi serius. Beberapa komplikasi yang mungkin terjadi meliputi:

  1. Infeksi: Jika fisura ani tidak sembuh dengan baik atau terjadi infeksi sekunder, anak dapat mengalami pembengkakan, nyeri yang lebih intens, dan demam.
  2. Abses: Jika infeksi menyebar dan berkembang menjadi abses, anak dapat mengalami kantung berisi nanah di sekitar anus.
  3. Fistula: Jika fisura ani tidak sembuh dengan baik atau abses tidak ditangani dengan benar, dapat terbentuk fistula.
  4. Gangguan psikologis: Anak yang mengalami fisura ani kronis atau mengalami rasa sakit yang berkelanjutan saat buang air besar dapat mengembangkan kecemasan, ketakutan, atau fobia terhadap buang air besar.
Baca Juga:  Posisi Saat BAB Dapat Mencegah Wasir?

Kapan Menghubungi Dokter

Jika Anda mencurigai anak Anda mengalami fisura ani, segera hubungi dokter untuk evaluasi dan diagnosis yang tepat. Selain itu, berikut adalah situasi di mana Anda harus segera mencari perawatan medis:

  • Jika perdarahan dari anus anak terus berlanjut atau berat.
  • Jika anak mengalami demam tinggi.
  • Jika nyeri anak tidak kunjung mereda atau semakin memburuk.
  • Jika anak mengalami masalah buang air besar yang terus berlanjut atau semakin parah.
  • Jika Anda mencurigai adanya infeksi atau komplikasi lainnya

Fisura ani pada anak adalah kondisi di mana terdapat celah atau robekan pada lapisan mukosa di sekitar anus. Hal ini dapat menyebabkan rasa sakit, perdarahan, dan ketidaknyamanan saat buang air besar. Perawatan terdiri dari perubahan gaya hidup, perawatan lokal, dan pencegahan sembelit. Jika gejala tidak membaik atau muncul komplikasi, perawatan medis lebih lanjut mungkin diperlukan. Menghubungi dokter adalah langkah penting untuk diagnosis dan pengobatan yang tepat. Dengan perawatan yang tepat, sebagian besar anak dapat pulih sepenuhnya dari fisura ani dan mencegah terjadinya kekambuhan.

Rate this post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *