Fisura ani setelah persalinan merupakan kondisi munculnya robekan kecil pada lapisan anus setelah seorang perempuan melahirkan. Keluhan ini dapat menyebabkan nyeri tajam saat buang air besar (BAB), rasa perih berkepanjangan, hingga keluarnya darah merah segar.
Setelah melahirkan, tubuh mengalami berbagai perubahan, termasuk perubahan hormon, pola BAB, serta kondisi otot dasar panggul. Beberapa perubahan tersebut dapat meningkatkan risiko sembelit dan membuat area anus lebih rentan mengalami luka.
Lantas, mengapa fisura ani bisa muncul setelah persalinan dan bagaimana cara mengatasinya?
Apa itu Fisura Ani?
Fisura ani adalah robekan atau luka kecil pada lapisan mukosa saluran anus. Kondisi ini umumnya terjadi ketika feses yang keras atau berukuran besar melewati lubang anus sehingga jaringan mengalami peregangan berlebihan.
Fisura ani dapat dialami siapa saja, termasuk perempuan setelah melahirkan. Luka biasanya menimbulkan rasa sakit ketika BAB karena otot sfingter anus ikut mengalami peregangan.
Pada sebagian orang, luka dapat sembuh dengan perawatan sederhana. Namun, jika penyebabnya terus berulang, fisura ani dapat berkembang menjadi kondisi kronis.
Mengapa Fisura Ani Bisa Terjadi Setelah Persalinan?
Ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko fisura ani setelah melahirkan.
1. Sembelit Menyebabkan Fisura Ani Setelah Persalinan
Sembelit merupakan salah satu pemicu utama fisura ani. Setelah persalinan, sebagian perempuan mengalami perubahan pola BAB akibat perubahan hormon, kurang bergerak, kurang asupan cairan, atau penggunaan obat tertentu.
Feses yang keras dapat melukai lapisan anus ketika dikeluarkan. Jika kondisi ini disertai kebiasaan mengejan, risiko terbentuknya robekan semakin meningkat.
2. Perubahan Hormon
Setelah melahirkan, kadar hormon estrogen dan progesteron mengalami perubahan. Perubahan tersebut dapat memengaruhi sistem pencernaan dan pola BAB.
Jika pergerakan usus melambat dan feses menjadi keras, tekanan pada saluran anus dapat meningkat ketika BAB.
3. Tekanan Saat Proses Persalinan
Persalinan normal melibatkan tekanan yang besar pada area panggul dan perineum. Peregangan jaringan selama proses mengejan dapat menyebabkan ketidaknyamanan di sekitar anus.
Meskipun demikian, fisura ani tidak selalu disebabkan langsung oleh proses persalinan. Sembelit dan feses keras tetap menjadi faktor pemicu yang perlu diperhatikan.
4. Kurangnya Asupan Cairan dan Serat
Setelah melahirkan, kebutuhan cairan tubuh tetap perlu diperhatikan, terutama pada ibu yang sedang menyusui.
Kurangnya cairan dan serat dapat membuat feses lebih keras sehingga proses BAB menjadi sulit. Kondisi ini dapat memperparah luka yang sudah terbentuk.
Gejala Fisura Ani Setelah Persalinan
Gejala fisura ani dapat mengganggu kenyamanan ibu selama masa pemulihan. Beberapa tanda yang sering muncul meliputi:
- Nyeri tajam ketika BAB.
- Rasa perih atau terbakar setelah BAB.
- Keluar darah merah segar pada tisu atau permukaan feses.
- Terlihat luka kecil di sekitar lubang anus.
- Rasa tidak nyaman ketika duduk.
- Takut BAB karena khawatir merasakan nyeri.
Jika nyeri berlangsung lama atau perdarahan terus berulang, sebaiknya lakukan pemeriksaan untuk memastikan penyebabnya.
Bagaimana Cara Mengatasi Fisura Ani Setelah Persalinan?
Penanganan fisura ani perlu disesuaikan dengan tingkat keparahan luka dan kondisi kesehatan ibu. Beberapa langkah berikut dapat membantu proses pemulihan.
1. Mengonsumsi Makanan Tinggi Serat
Perbanyak konsumsi buah, sayuran, dan makanan berserat lainnya. Serat membantu melunakkan feses sehingga lebih mudah dikeluarkan tanpa mengejan berlebihan.
2. Mencukupi Kebutuhan Cairan
Minum air putih yang cukup dapat membantu menjaga tekstur feses. Ibu menyusui juga perlu memperhatikan kebutuhan cairan sehari-hari.
3. Menghindari Kebiasaan Menahan BAB untuk menghindari Fisura Ani Setelah Persalinan
Menahan BAB dapat membuat feses semakin keras karena terlalu lama berada di usus besar. Usahakan untuk tidak menunda keinginan BAB.
4. Melakukan Sitz Bath
Sitz bath merupakan metode merendam area bokong dan anus menggunakan air hangat selama beberapa menit. Cara ini dapat membantu meredakan ketidaknyamanan dan membuat otot di sekitar anus lebih rileks.
5. Menggunakan Obat Sesuai Anjuran Dokter
Jika keluhan tidak membaik, dokter dapat memberikan salep atau obat tertentu untuk membantu mengatasi fisura ani. Ibu yang sedang menyusui sebaiknya berkonsultasi sebelum menggunakan obat agar keamanannya dapat dipertimbangkan.
Apakah Fisura Ani Setelah Persalinan Membutuhkan Operasi?
Tidak semua fisura ani membutuhkan operasi. Sebagian besar kasus akut dapat membaik dengan pengaturan pola BAB, perawatan area anus, dan pengobatan yang sesuai.
Namun, apabila luka berlangsung lebih dari enam minggu, sering kambuh, atau tidak membaik dengan pengobatan konservatif, dokter dapat mempertimbangkan tindakan medis.
Di ST Wasir Center, pasien dapat berkonsultasi mengenai keluhan fisura ani dan pilihan penanganannya. Teknologi radiofrekuensi (RF) maupun laser dapat dipertimbangkan sesuai kondisi luka dan hasil evaluasi dokter spesialis bedah.
Pemilihan metode tidak dilakukan secara sembarangan karena perlu mempertimbangkan kondisi otot sfingter dan jaringan di sekitar anus.
Kapan Ibu Setelah Melahirkan Harus ke Dokter?
Segera periksakan diri jika nyeri anus semakin berat, perdarahan terjadi berulang, atau luka tidak menunjukkan perbaikan.
Pemeriksaan juga diperlukan apabila terdapat benjolan, nanah, demam, atau pembengkakan di sekitar anus. Keluhan tersebut dapat mengindikasikan kondisi lain, seperti abses perianal atau fistula ani.
Kesimpulan: Fisura Ani Setelah Persalinan
Fisura ani setelah persalinan dapat terjadi akibat sembelit, feses keras, perubahan hormon, serta tekanan selama proses melahirkan. Kondisi ini biasanya ditandai dengan nyeri saat BAB, rasa terbakar, dan perdarahan ringan.
Menjaga asupan serat dan cairan serta menghindari mengejan dapat membantu mencegah luka semakin parah. Jika keluhan tidak kunjung membaik atau sering berulang, lakukan pemeriksaan di ST Wasir Center untuk mendapatkan evaluasi dan penanganan yang sesuai.